Hello from MU plugin

“GENERASI MENDATANG” di Atas Tanah Merah: Menagih Aksi Nyata Bupati Morowali di Luar Urusan Sampah

Array
Komentar 0

MOROWALI, Satunurani.com – Jum’at, (12/06/2026). Pernyataan normatif dan ajakan puitis kembali menggema dari lingkar kekuasaan Kabupaten Morowali. Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang digelar Kamis (11/6/2026), Bupati Morowali menyerukan agar momentum ini tidak sekadar menjadi seremonial tahunan.Ia mengajak semua pihak terutama di kawasan industri untuk bekerja demi iklim dan menjaga lingkungan demi generasi mendatang.

Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Morowali, Ikhtiar menganggap apa yang di sampaikan bupati tersebut terdengar seperti musik dengan latar yang usang. Ada jarak yang sangat lebar antara “menjaga iklim” di atas podium dengan realitas kehancuran ruang hidup yang terjadi hampir setiap hari di Kabupaten Morowali.

“Bupati Morowali benar ketika mengatakan jangan hanya melihat sampahnya sudah habis. Namun, kemudian ironinya, narasi pemerintah daerah sendiri seringkali terjebak pada penyederhanaan masalah. Di Morowali, krisis lingkungan hidup bukan lagi soal sampah plastik di pinggir jalan atau tata kelola limbah domestik perkotaan,” kata Ikhtiar.

Krisis di Morowali adalah soal “gajah yang ada di pelupuk mata,” tegasnya lagi.

Ikhtiar menambahkan, Langit Hitam yang sebabkan oleh Batubara, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) captive berbasis batubara terus mengepulkan emisi karbon dan abu hitam di pemukiman warga demi menyuplai energi smelter. Bagaimana mungkin kita berbicara tentang “bekerja untuk iklim” jika daerah justru menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar dari sektor industri.

Ia menyebut pesisir pantai yang sekarat, lumpur merah akibat sedimentasi nikel dan aktivitas pelabuhan khusus (jetty) yang sudah merusak wilayah tangkap nelayan di Kabupaten Morowali.

“Bencana Ekologis yang berulang seperti event tahunan. Gundulnya hutan di wilayah hulu demi konsesi tambang yang memicu banjir bandang rutin yang memutus akses jalan Trans Sulawesi setiap kali ketika cura hujan yang tinggi,” ungkapnya.

Ikhtiar menegaskan jika apa yang dikerjakan pemerintah hari ini adalah terus melonggarkan pengawasan AMDAL, membiarkan ekspansi tambang tanpa batas, dan menoleransi polusi udara yang memicu melonjaknya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak-anak di lingkar tambang, maka “generasi masa depan” Morowali dipastikan hanya akan mewarisi kebangkrutan ekologis.

Anak cucu warga Morowali tidak hanya membutuhkan pidato tentang iklim, mereka membutuhkan paru-paru yang sehat, air bersih yang tidak tercemar,dan laut yang masih memiliki ikan.

“Jangan sampai pemerintah daerah hari ini hanya memposisikan diri sebagai pengajak warga untuk merawat lingkungan tanpa berani menyentuh, mengevaluasi, dan menindak regulasi industri yang merusak, maka seruan ini tidak lebih dari sekadar greenwashing politik tahunan untuk menenangkan kritik masyarakat, sementara pengerukan bumi Morowali terus berjalan tanpa ampun,” tutupnya. (DR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

REKOMENDASI UNTUK ANDA

ARTIKEL TERKAIT

Logo ATM - GIF 02-Small

POPULER

REKOMENDASI

MUNGKIN ANDA MELEWATKAN INI

iklan02