Malang — Suasana PKKMB 2026 Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) berlangsung penuh khidmat ketika ribuan mahasiswa baru diajak menelusuri sejarah panjang berdirinya kampus sekaligus memahami tantangan yang dihadapi generasi masa kini.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Sarwakirti, Senin (21/9/2026), menghadirkan Dr. Nawaji, M.Pd, penulis buku Meluruskan Sejarah Unikama sekaligus Wakil Ketua PPLP-PT PGRI Malang.
Dalam materinya, Nawaji mengupas perjalanan Unikama dari masa ke masa, termasuk akar sejarah kampus yang bermula dari Kursus B.1 Ilmu Mendidik.
Menurut Nawaji, lembaga yang didirikan oleh almarhum Abdoel Radjab bersama pengurus PGRI Cabang Malang II tersebut kemudian bernama Akademi Pendidikan Guru berdasarkan SK Nomor 772/VIII tertanggal 20 Mei 1957.
Perjalanan lembaga pendidikan itu terus berkembang mengikuti tuntutan zaman dan perubahan regulasi pendidikan. Pada 1960, Akademi Pendidikan Guru berubah menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Malang II atau FKIP PGRI Malang II.
Dalam perkembangannya, lembaga tersebut terus bertransformasi hingga menjadi universitas komprehensif yang kini dikenal sebagai Unikama atau “Kampus Multikultural”.
Namun, salah satu bagian yang menarik perhatian mahasiswa baru adalah cerita Nawaji mengenai proses pembangunan kampus di Kepuh-Klayatan, yang kini berada di Jalan S. Supriadi Nomor 48 Malang.
Ia mengungkapkan, pada 1982–1984, kebutuhan sarana fisik kampus mendorong adanya kebijakan pembayaran biaya Ujian Negara lebih awal bagi mahasiswa yang belum waktunya mengikuti ujian.
“Dari uang mahasiswa itulah dipinjam dulu untuk membeli tanah dan membangun kampus yang ada di Kepuh-Klayatan,” ujar Nawaji.
Sebagai bentuk penghargaan kepada mahasiswa dan orang tua mereka, kemudian dibuat sebuah prasasti yang mencatat sumber pembangunan tersebut.
Prasasti itu memuat tulisan:
«“Tanah dan bangunan IKIP PGRI yang ada di atasnya dibangun dari keping-keping rupiah orang tua mahasiswa dan mahasiswa IKIP PGRI Jatim di Malang, tertanggal 20 Mei 1982.”»
Nawaji menegaskan, sejarah Unikama tidak hanya berbicara mengenai perubahan nama dan kelembagaan, tetapi juga tentang dedikasi para pendidik, mahasiswa, serta orang tua mahasiswa dalam membangun institusi pendidikan.
“Unikama berdiri di atas dedikasi dan cita-cita luhur para pendidik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Hari ini, tongkat estafet sejarah itu diserahkan kepada kalian,” tegasnya.
Ia kemudian mengingatkan mahasiswa baru agar tidak hanya mengejar kemampuan teknologi dan daya saing global.
“Tantangan kalian saat ini adalah bagaimana menjadi generasi yang cerdas digital, berdaya saing global, namun tetap memegang teguh etika, kejujuran akademik, dan kearifan lokal,” imbuhnya.
Pemaparan sejarah dan tantangan masa depan tersebut mendapat respons antusias dari mahasiswa baru. Sesi kemudian ditutup dengan tepuk tangan dan ikrar komitmen.
Melalui materi tersebut, mahasiswa baru diajak memahami bahwa perjalanan Unikama tidak terlepas dari kontribusi generasi terdahulu, sekaligus memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan estafet sejarah kampus dengan integritas, kemampuan beradaptasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.












Leave a Reply