Hello from MU plugin

Islam ala Prabowo: Ketika Nilai Agama Menjadi Etika Kepemimpinan

Array
Komentar 0
IMG-20260908-WA0005

Oleh: Dr. Ir. H. Mohammad Masduki, S.H., M.H.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang

 

Ada yang menarik dari judul buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Tiga kata pertama—Islam ala Prabowo—barangkali cukup untuk memancing berbagai tafsir. Ada yang mungkin bertanya: apakah ini Islam versi Prabowo? Apakah ada “Islam baru” bernama Islam ala Prabowo?

 

Menurut saya, tidak demikian. Kata “ala” dalam bahasa Indonesia pada dasarnya menunjuk pada cara, gaya, model, atau menurut suatu versi atau perspektif tertentu. Maka “Islam ala Prabowo” lebih tepat dipahami sebagai cara Prabowo memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan dan kepemimpinannya, sebagaimana ditegaskan oleh subjudul buku tersebut.

 

Karena itu, buku ini menurut saya lebih tepat dibaca sebagai sebuah upaya untuk melihat Islam dari sisi praksis kehidupan seorang pemimpin: bagaimana nilai agama diterjemahkan menjadi sikap, karakter, kebijakan, kepedulian sosial, dan tindakan nyata.

 

Dan justru di situlah menariknya buku ini.

 

Buku Islam ala Prabowo merupakan kumpulan tulisan yang melihat sosok Prabowo Subianto dari berbagai perspektif. Para penulisnya mencoba membaca sisi keislaman Prabowo melalui tema perdamaian, keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan rakyat, spiritualitas, ekonomi, pendidikan, pesantren, moderasi beragama hingga kemaslahatan.

 

Bagian awal buku, misalnya, berbicara tentang Islam sebagai sumber perdamaian dan keadilan. Ada tulisan mengenai kepedulian kepada rakyat dan keadilan, kepemimpinan dan kemakmuran, kemanusiaan dan perdamaian, kerja keras untuk kesejahteraan, pembelaan terhadap kaum mustadh’afin, diplomasi, hingga harapan rakyat Palestina terhadap Indonesia.

 

Tema-tema tersebut menunjukkan bahwa Islam yang hendak dibaca melalui sosok Prabowo bukan semata-mata Islam dalam pengertian ritual personal, tetapi Islam sebagai nilai etik dalam kehidupan publik.

 

Pada bagian berikutnya, pembaca diajak memasuki tema spiritualitas Prabowo. Ada pembahasan tentang Islam kerakyatan, ekonomi Islam, Islam Nusantara, keberagamaan Prabowo, kemaslahatan sebagai visi moral, serta hubungan Prabowo dengan Islam di Indonesia.

 

Sedangkan bagian mengenai perjuangan untuk kesejahteraan rakyat mengangkat tema Muslim patriotik, Asta Cita, pendidikan bermutu, moderasi, keadilan, pembaruan, Prabowonomics, nilai tasawuf dalam kepemimpinan, masa depan pendidikan bangsa, dukungan pesantren, hingga perbandingan kepemimpinan dengan Umar bin Abdul Aziz.

 

Jika dibaca secara keseluruhan, berbagai tulisan tersebut sebenarnya bertemu pada satu titik: bagaimana nilai-nilai Islam diterjemahkan dalam kepemimpinan dan kebijakan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi rakyat.

 

Inilah yang menurut saya penting untuk didiskusikan.

 

Islam tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Allah. Islam juga berbicara mengenai hubungan manusia dengan manusia dan bagaimana seseorang menggunakan amanah yang diberikan kepadanya.

 

Ketika seseorang berada dalam posisi kekuasaan, nilai-nilai seperti amanah, keadilan, kejujuran, kasih sayang, keberpihakan kepada kaum lemah, musyawarah dan kemaslahatan menjadi semakin penting.

 

Kekuasaan adalah ujian terhadap nilai-nilai tersebut.

 

Seseorang dapat terlihat religius ketika tidak memiliki kekuasaan. Tetapi bagaimana ketika ia memiliki kewenangan untuk menentukan nasib jutaan orang? Apakah ia tetap adil? Apakah ia tetap amanah? Apakah ia mampu menahan kepentingan pribadi dan kelompok? Apakah ia mau mendengar suara rakyat kecil? Apakah keputusan yang diambil benar-benar diarahkan kepada kemaslahatan?

 

Di sinilah agama menemukan relevansinya dalam kepemimpinan.

 

Karena itu, saya melihat upaya buku ini membaca gagasan dan tindakan Prabowo dari perspektif nilai-nilai Islam sebagai sesuatu yang patut diapresiasi. Tentu saja, pembaca tetap memiliki hak untuk memberikan penilaian kritis terhadap setiap perspektif yang disampaikan. Tetapi usaha untuk mencari hubungan antara nilai agama dan praksis kepemimpinan merupakan diskursus yang sangat penting bagi Indonesia.

 

Prabowo sendiri tidak perlu ditempatkan sebagai pembentuk ajaran atau tafsir Islam baru. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana nilai-nilai yang bersumber dari agama dapat direfleksikan dalam kehidupan seorang pemimpin.

 

Ketika kepedulian kepada rakyat diterjemahkan dalam kebijakan sosial, ketika keberpihakan kepada masyarakat miskin menjadi agenda pembangunan, ketika pendidikan mendapat perhatian, ketika pesantren diberi ruang, ketika perdamaian dan diplomasi dikedepankan, atau ketika Indonesia mengambil posisi dalam persoalan kemanusiaan global, di situlah nilai etik agama dapat dibaca dalam ruang publik.

 

Tentu, kita tidak boleh menyederhanakan bahwa setiap kebijakan pemerintah otomatis merupakan implementasi ajaran agama. Kebijakan publik tetap harus diuji dengan konstitusi, hukum, data, kepentingan nasional dan ukuran-ukuran objektif lainnya.

Namun agama dapat memberikan kompas moral bagi seorang pemimpin.

 

Bagi seorang Muslim, Al-Qur’an dan Sunnah mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah. Amanah berarti tanggung jawab. Dan tanggung jawab selalu mengandung konsekuensi moral.

 

Karena itu, menurut saya, pesan yang lebih luas dari buku Islam ala Prabowo sebenarnya bukan hanya tentang Prabowo.

 

Buku ini dapat menjadi momentum untuk mengingatkan seluruh pemimpin Indonesia bahwa agama seharusnya tidak berhenti sebagai simbol dan identitas. Nilai agama harus masuk ke dalam cara berpikir, cara berbicara dan cara bertindak.

 

Seorang pemimpin Muslim idealnya tidak cukup hanya rajin berbicara tentang agama. Ia harus menunjukkan nilai agama dalam keputusan-keputusannya.

Ia harus adil ketika memiliki kewenangan.

Ia harus amanah ketika mengelola anggaran.

Ia harus jujur ketika berhadapan dengan rakyat.

Ia harus berani membela yang lemah.

Ia harus mampu mengendalikan diri ketika memiliki kekuasaan.

Dan yang paling penting, ia harus menyadari bahwa jabatan bukanlah hak istimewa, melainkan amanah yang pada waktunya akan dimintai pertanggungjawaban.

 

Dalam konteks Indonesia yang plural, nilai-nilai tersebut juga dapat menjadi jembatan antara agama dan kebangsaan. Nilai keadilan, kemanusiaan, persaudaraan, perdamaian dan kemaslahatan tidak hanya relevan bagi umat Islam, tetapi juga merupakan nilai universal yang dapat memperkuat kehidupan kebangsaan.

 

Karena itu saya menyambut baik hadirnya buku Islam ala Prabowo.

 

Saya justru menyarankan masyarakat untuk membaca buku ini secara utuh, bukan hanya membaca judulnya, potongan kalimatnya, atau komentar orang lain tentang buku tersebut.

 

Bacalah setiap tulisannya. Nikmati keragaman perspektif para penulisnya. Renungkan gagasannya. Setujui bagian yang dianggap tepat, kritik bagian yang dianggap kurang, dan diskusikan dengan pikiran terbuka.

 

Sebab sebuah buku tidak harus membuat semua orang memiliki kesimpulan yang sama. Buku yang baik justru membuka ruang perenungan dan dialog.

 

Dan dari buku ini, mungkin kita dapat membawa pulang satu pertanyaan penting: apakah kita sedang membangun pemimpin yang hanya kuat secara politik, atau pemimpin yang juga kuat secara moral dan spiritual?

 

Pertanyaan itu tidak hanya ditujukan kepada Prabowo.

Pertanyaan itu ditujukan kepada kita semua—kepada setiap orang yang memegang amanah kepemimpinan, di pemerintahan, politik, organisasi, dunia usaha maupun masyarakat.

 

Sebab pada akhirnya, kekuasaan bukan sekadar tentang siapa yang memimpin. Kekuasaan adalah tentang untuk siapa kepemimpinan itu dijalankan dan nilai apa yang menjadi landasannya.

 

Dan bagi seorang Muslim, jawabannya jelas: kekuasaan adalah amanah, dan amanah harus dipertanggungjawabkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

REKOMENDASI UNTUK ANDA

ARTIKEL TERKAIT

Logo ATM - GIF 02-Small

POPULER

REKOMENDASI

MUNGKIN ANDA MELEWATKAN INI

iklan02