Jakarta – Harga emas dunia yang tercermin dari XAU/USD masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai pergerakan emas pada grafik harian masih memperlihatkan kecenderungan bearish.
Menurut Geraldo, indikasi tersebut terlihat dari kemunculan pola Head & Shoulder pada grafik XAU/USD. Formasi teknikal itu membuka peluang bagi harga emas untuk melanjutkan penurunan hingga menguji area support di kisaran US$4.281–US$4.221.
“Pola Head & Shoulder yang terbentuk memberikan sinyal bahwa XAU/USD masih berpotensi bergerak turun menuju area support US$4.281 hingga US$4.221,” ujar Geraldo dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9/2026).
Ia menjelaskan, pola Head & Shoulder menjadi salah satu indikator yang tengah diperhatikan pelaku pasar karena dapat menunjukkan perubahan momentum setelah sebelumnya harga emas mengalami penguatan.
Dengan terbentuknya pola tersebut pada time frame harian, tekanan jual dinilai masih dapat berlanjut selama belum muncul sinyal pembalikan harga yang cukup kuat.
Area Support Jadi Perhatian
Geraldo menyebut area US$4.281 hingga US$4.221 menjadi level penting yang perlu dicermati dalam perdagangan emas saat ini.
Jika tekanan jual terus berlanjut, XAU/USD diperkirakan berpotensi menguji US$4.281 terlebih dahulu sebelum bergerak menuju level yang lebih rendah di US$4.221.
Namun, respons harga ketika mencapai zona tersebut juga menjadi faktor penting. Kemampuan area support dalam menahan tekanan jual dapat menentukan apakah emas akan kembali menguat atau justru meneruskan tren penurunannya.
Apabila support berhasil dipertahankan, peluang terjadinya rebound masih terbuka. Sebaliknya, penembusan support berpotensi memperbesar tekanan bearish terhadap XAU/USD.
Oleh karena itu, zona US$4.281–US$4.221 dapat menjadi salah satu acuan utama untuk melihat arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek.
Harga Emas Masih Mengalami Tekanan
Dari perspektif fundamental, harga emas berada di sekitar US$4.350 per troy ounce setelah mengalami penurunan selama tiga sesi perdagangan berturut-turut.
Pelemahan tersebut berlangsung ketika perhatian pasar meningkat terhadap pergerakan harga minyak dan risiko inflasi yang kembali menguat seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurut Geraldo, kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap emas melalui peningkatan inflasi. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya produksi maupun transportasi, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Apabila inflasi bertahan dalam waktu yang lebih panjang, pasar berpotensi kembali memperkirakan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama,” jelasnya.
Ekspektasi terhadap suku bunga tersebut menjadi faktor penting bagi pasar emas. Pasalnya, kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi dapat meningkatkan biaya peluang bagi investor yang menyimpan dana dalam emas, mengingat logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Ketika yield Treasury Amerika Serikat meningkat, sebagian investor berpotensi mengalihkan dananya ke instrumen yang memberikan imbal hasil, termasuk obligasi maupun aset berbasis dolar AS.
Selain itu, arah pergerakan dolar AS juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Penguatan dolar biasanya membuat harga emas yang dihitung dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Kondisi ini dapat mengurangi permintaan sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap XAU/USD.
Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed
Di tengah tekanan tersebut, faktor geopolitik masih dapat menjadi penopang bagi harga emas. Ketegangan di Timur Tengah berpotensi meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai safe haven atau aset lindung nilai ketika ketidakpastian global meningkat.
Meski demikian, pengaruh konflik geopolitik terhadap harga emas tidak sepenuhnya bersifat positif. Pasalnya, konflik juga dapat mendorong kenaikan harga minyak yang kemudian meningkatkan risiko inflasi. Dampak tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dan kembali menekan emas.
Fokus pasar selanjutnya akan mengarah pada publikasi data inflasi Amerika Serikat, khususnya Consumer Price Index (CPI). Data tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam memperkirakan arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Jika angka inflasi berada di atas ekspektasi, pasar berpotensi meningkatkan perkiraan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama. Situasi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.
Sebaliknya, apabila inflasi menunjukkan perlambatan, peluang pelonggaran kebijakan moneter akan kembali terbuka. Kondisi tersebut berpotensi melemahkan dolar AS dan menekan yield Treasury sehingga memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat.
Dengan mempertimbangkan indikator teknikal dan fundamental, Geraldo menilai risiko penurunan XAU/USD masih cukup besar pada perdagangan hari ini.
Pola Head & Shoulder pada grafik harian menjadi sinyal yang perlu diperhatikan, sementara area US$4.281–US$4.221 menjadi zona support utama yang berpotensi menjadi target penurunan.
Pelaku pasar juga disarankan memperhatikan respons harga di sekitar level support tersebut serta perkembangan dolar AS, yield Treasury, harga minyak, dan data inflasi Amerika Serikat. Perpaduan faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu apakah tekanan bearish masih berlanjut atau emas mulai memperoleh momentum untuk rebound.
“Secara keseluruhan, harga emas hari ini masih berpotensi bergerak bearish. Selama tekanan jual tetap kuat dan belum muncul indikasi pembalikan yang signifikan, XAU/USD masih berpeluang turun menuju US$4.281–US$4.221. Respons harga pada area tersebut akan menjadi penentu bagi pergerakan emas selanjutnya,” pungkas Geraldo.(Red.)











Leave a Reply