Hello from MU plugin

Kepedulian dan Rasa Sayang Prof. Yusril kepada KDM

Array
Komentar 0
photo_2026-07-30_16-24-26

JAKARTA, Satunurani.com – Kamis, (30/07/2026). Perdebatan publik mengenai nasihat Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc. kepada Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) sebaiknya ditempatkan dalam konteks yang utuh, bukan hanya berdasarkan potongan-potongan pernyataan yang beredar di media sosial. Dalam kehidupan demokrasi, nasihat dari seorang senior kepada pemimpin yang sedang menjalankan amanah merupakan tradisi yang patut dijaga. Tidak setiap masukan harus dimaknai sebagai kritik yang bersifat konfrontatif, apalagi dijadikan bahan untuk membangun narasi pertentangan yang justru mengaburkan substansi dari pesan yang disampaikan.

Hubungan Prof. Yusril dengan KDM bukanlah hubungan yang lahir karena kepentingan politik sesaat. Berdasarkan berbagai pengakuan yang pernah disampaikan KDM, kedekatan itu telah terjalin sejak masa aktifnya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). KDM mengakui bahwa dirinya kerap memperoleh bimbingan langsung dari Prof. Yusril, termasuk mengikuti berbagai forum kaderisasi dan pelatihan (diklat) yang diisi oleh beliau. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan wawasan kebangsaan, kepemimpinan, dan cara berpikir konstitusional yang kemudian mewarnai perjalanan pengabdiannya di dunia politik dan pemerintahan. Dalam tradisi HMI, hubungan antara senior dan kader tidak berhenti ketika proses perkaderan selesai. Hubungan tersebut berlanjut dalam bentuk pembinaan moral, intelektual, dan kepemimpinan. Budaya saling mengingatkan merupakan salah satu ciri khas organisasi ini. Karena itu, ketika seorang senior memberikan nasihat kepada kadernya yang sedang mengemban jabatan publik, hal tersebut lebih tepat dipahami sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kasih sayang seorang pembina kepada kadernya, bukan sebagai ekspresi pertentangan politik.

Perjalanan politik KDM juga tidak dapat dilepaskan dari dukungan berbagai tokoh nasional, termasuk Prof. Yusril. Dalam berbagai momentum politik, Prof. Yusril dikenal memberikan dukungan moral dan apresiasi terhadap kapasitas kepemimpinan KDM, mulai dari ketika memimpin Kabupaten Purwakarta hingga dalam perjalanan politiknya menuju kepemimpinan di Jawa Barat. Dukungan tersebut menunjukkan adanya hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan, penghormatan, dan keyakinan terhadap kemampuan KDM sebagai seorang pemimpin.

Yang juga penting dicermati adalah respons KDM terhadap nasihat tersebut. Alih-alih menunjukkan sikap keberatan atau penolakan, KDM justru menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Prof. Yusril atas perhatian serta nasihat yang diberikan. Sikap tersebut mencerminkan penghargaan seorang kader kepada senior yang telah lama membimbingnya. KDM memandang nasihat itu sebagai bentuk kepedulian dan masukan yang patut dihargai, sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam menjalankan amanah publik, seorang pemimpin tidak boleh menutup diri terhadap pandangan dari para senior dan tokoh bangsa yang memiliki pengalaman panjang.

Di era media sosial, potongan video atau kutipan singkat sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan penjelasan yang utuh. Akibatnya, sebuah nasihat mudah dipersepsikan sebagai konflik, padahal respons kedua belah pihak justru menunjukkan adanya hubungan yang tetap harmonis dan penuh saling menghormati. Karena itu, masyarakat perlu lebih bijaksana dalam menyikapi informasi dengan melihat konteks, sejarah hubungan para pihak, serta keseluruhan pernyataan yang disampaikan, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang bersifat provokatif.

Pada akhirnya, hubungan Prof. Yusril Ihza Mahendra dan Kang Dedi Mulyadi merupakan contoh bagaimana tradisi pembinaan dalam konteks keindonesiaan tetap terpelihara. Sejarah panjang pembinaan sejak masa kaderisasi, dukungan dalam perjalanan politik, sikap saling menghormati, serta respons KDM yang menyampaikan terima kasih atas nasihat Prof. Yusril menunjukkan bahwa hubungan keduanya lebih mencerminkan ikatan intelektual, moral, dan kebangsaan daripada hubungan yang dipenuhi konflik. Oleh karena itu, publik hendaknya tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah, melainkan melihat persoalan ini sebagai wujud kedewasaan demokrasi yang memberi ruang bagi nasihat, kritik yang membangun, dan dialog antargenerasi demi kepentingan bangsa.

Bila kita mampu membaca secara utuh nasehat Prof. Yusril Ihza Mahendra dan respon Kang Dedi Mulyadi akan tergambar akan adanya harapan besar bagi terciptanya kekuatan moral dan kebesaran bangsa Indonesia. Keduanya memiliki titik tujuan yang sama. Sebagai seorang cendekiawan, mahaguru hukum tata negara, dan filosof yang sekaligus sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan, Prof. Yusril memandang dari perspektif yang tinggi dan luas. Sementara Kang Dedi Mulyadi sebagai seorang Gubernur yang setiap hari berjumpa dengan persoalan riel di lapangan lebih menekankan pada tindakan taktis yang cepat dan solutif. Jika keduanya dapat dijalankan bersama secara simultan barangkali inilah model penyelesaian masalah yang ideal bagi Masyarakat Indonesia.

Salam hormat kepada beliau berdua.

Oleh: Dr. Ir. H. Mohammad Masduki, S.H., M.H.

Wakil Ketua Umum Partai Bulan Bintang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

REKOMENDASI UNTUK ANDA

ARTIKEL TERKAIT

Logo ATM - GIF 02-Small

POPULER

REKOMENDASI

MUNGKIN ANDA MELEWATKAN INI

iklan02