Jember – Proyek revitalisasi SDN 5 Kranjingan, Jember, dengan anggaran Rp586.194.725 dari APBN 2026, menyisakan ironi yang patut mendapat perhatian publik. Nilainya mendekati Rp600 juta. Namun di tengah besarnya anggaran tersebut, sejumlah material bangunan lama ternyata masih dipertahankan.
Kepala SDN 5 Kranjingan, Hadi, mengakui bahwa genteng lama masih digunakan dalam proyek revitalisasi.
“Genteng masih dipakai, yang diganti itu galvalum sama kusen semua,” ujar Hadi, Rabu (16/9/2026).
Bukan hanya material lama yang menjadi perhatian. Sistem pengerjaan proyek juga dilakukan dengan pola tukang borongan, sementara pengadaan material dilakukan sendiri oleh pihak sekolah.
“Tukang borongan, bahan belanja sendiri,” katanya.
Pernyataan ini memang belum membuktikan adanya penyimpangan. Tetapi justru di sinilah pertanyaan publik bermula. Dengan nilai pekerjaan mencapai Rp586 juta, masyarakat berhak mengetahui secara terang bagaimana anggaran tersebut dibelanjakan.
Berapa untuk material? Berapa untuk upah? Berapa untuk perencanaan? Berapa untuk pengawasan? Dan berapa yang benar-benar menjadi nilai pekerjaan fisik di sekolah?
Hadi menjelaskan bahwa anggaran revitalisasi tidak seluruhnya digunakan untuk pekerjaan fisik. Sebagian dialokasikan untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan kegiatan.
“Ada perencana, pengawas, dan pengelola. Lalu fisik untuk bangunan dan upah tukang sesuai dengan RAB yang dibuat perencana,” terangnya.
RAB menjadi dokumen penting untuk menjawab seluruh pertanyaan tersebut. Sebab tanpa melihat RAB, rincian volume pekerjaan, harga material dan pembayaran tenaga kerja, publik hanya akan melihat angka besar Rp586 juta tanpa mengetahui secara utuh bagaimana uang negara itu digunakan.
Pantauan di lokasi menunjukkan revitalisasi hanya menyentuh sejumlah bagian bangunan, di antaranya ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, perpustakaan dan toilet. Sementara beberapa material lama masih dipertahankan.

PAPAN PROYEK DI POHON, TRANSPARANSI DIPERTANYAKAN
Yang tak kalah mengundang perhatian adalah papan informasi proyek. Alih-alih berdiri jelas sebagai sarana informasi bagi masyarakat, papan proyek tersebut justru ditempelkan pada sebuah pohon di halaman sekolah.
Sekilas mungkin terlihat sepele. Tetapi dalam proyek yang menggunakan uang negara hingga ratusan juta rupiah, papan informasi bukan sekadar formalitas. Papan itu merupakan salah satu bentuk keterbukaan agar masyarakat mengetahui proyek apa yang sedang dikerjakan, dari mana sumber dananya, berapa nilainya dan siapa yang bertanggung jawab.
Pertanyaannya sederhana: Jika uangnya milik negara, mengapa informasi tentang penggunaannya seolah hanya menjadi urusan internal sekolah? Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Nurul Hafid Yasin, menjelaskan bahwa program revitalisasi tersebut merupakan program pemerintah pusat yang pengelolaannya dilakukan langsung oleh sekolah.
“Program revitalisasi ini dari pemerintah pusat langsung ke sekolah, yang menunjuk segala sesuatunya itu adalah kepala sekolah,” jelasnya.
Terkait pekerjaan borongan, Hafid menyebut terdapat jenis pekerjaan tertentu yang memang diperbolehkan menggunakan sistem tersebut, salah satunya pemasangan atap galvalum yang membutuhkan aplikator khusus.
“Memang ada pekerjaan yang boleh diborongkan, semisal pemasangan galvalum atap itu harus pakai aplikator,” ujarnya.
Penjelasan tersebut tentu penting. Namun tetap ada satu hal yang tidak boleh hilang: akuntabilitas penggunaan anggaran. Karena proyek ini bukan menggunakan uang pribadi.
Rp586 juta itu uang negara. Dan setiap rupiah uang negara pada akhirnya harus bisa dipertanggungjawabkan. Maka pertanyaan publik bukan semata-mata mengapa genteng lama masih digunakan.
Bukan pula sekadar mengapa pekerjaan menggunakan tukang borongan. Tetapi jauh lebih mendasar: Apakah seluruh pekerjaan, volume, material, upah dan pengeluaran dalam proyek revitalisasi SDN 5 Kranjingan benar-benar sesuai dengan RAB dan ketentuan program? Jawabannya ada pada dokumen. Dan selama dokumen itu belum dibuka secara terang, tanda tanya publik akan tetap menggantung di antara bangunan sekolah yang direvitalisasi dan papan proyek yang justru menempel di pohon. (Sr)











Leave a Reply